Dan kita saling menyakiti diri. Kamu datang dengan penuh penyangkalan. Dan aku sudah enggan untuk membenarkan.

Aku lelah. Aku sudah jauh di sini. Aku hanya meminta berteman, tidak untuk dipanggil setan. Jika tak ingin berteman, tinggal bilang. Aku bukan perempuan bodoh yang akan memaksamu berteman jika kamu tak mau.

Silakan. Kubentangkan kotak yang kau isi dengan asumsimu. Isi saja hingga penuh.

Ini titik kecewaku yang terdalam.

Terimakasih sudah menyebutku pengarang hebat. Itu doa terbaik yang pernah kudapatkan darimu. Kumaknai kata itu positif, meskipun isi kepalamu negatif.

*

*meracau siang-siang. maaf.

Maaf :)

April 26, 2012

Hey! Apa kabar kamu?

Lama tak menemuimu. Sebulan lebih yah. Yang tadinya berencana merampungkan #30harimenulis bersamamu, ternyata malah terbengkalai karena ke’sok’sibukan saya di kantor. Maaf, sungguh maaf. Saya tahu saya sedang mencari alasan. Tapi saya bingung menjelaskan.

Sebulan terakhir ini bisa dibilang kesibukan menyita banyak hal dari saya. Keseringan bermain 140 karakter membuat saya kemudian malas menemuimu, dan melewatkan banyak hal. 26 tahun saya, ulangtahun ibu, ulangtahun almarhum bapak, Modus Anomali. Ah, banyak pokoknya yg terjadi antara Maret hingga April ini! Padahal tadinya saya berencana menuliskan surat untuk saya. Tapi tangan enggan mengetik. Bahkan membuka pintumu pun enggan.

Cih! Blogger macam apa saya ini?! *kesal pada diri sendiri*

Maaf yah, blog..

Kamu masih teman setia saya dari tahun 2008 kok. Izinkan saya mengulurkan kelingking saya untuk ditautkan padamu yah.

Maaf. :)

#day8 : M

March 14, 2012

Teruntuk M,

Terimakasih untuk malam-malam yang pernah kita lewati duduk di depan tivi demi menyaksikan liga champion UEFA 2002. Aku masih ingat, sesekali kakimu seperti terlihat hendak menendang bola maya saat pemain yang kita tonton gagal menendang bola ke gawang. Aku ingat, UEFA 2002 dimenangkan AC Milan, tim kesukaanku tentu saja. Aku ingat, aku bilang padamu aku suka Kaka dan Dida. Dan ya, celetukanmu tentang pemain bola malam itu memang membuat malamku lebih meriah. Malam kita, jika boleh aku menyebutnya. Karena malam-malam itu hanya dimiliki kita berdua, tanpa bapak.

Ya, kita sabotase tivi.

Aku dan kamu tahu, bapak lebih memilih nonton si cepot dibanding pertandingan bola. Bapak tak suka bola seperti kita.

Terimakasih untuk perdebatan kita yang kadang tak penting. Kita memang berbeda kepala. Kita berdebat. Untuk beberapa hal, aku tahu apa yang kita perdebatkan sebenarnya memang untuk kebaikanku. Tapi kita sama-sama tahu, aku dan kamu dua orang keras kepala yang berbeda jauh pola pikirnya.

Terimakasih untuk selalu mengingatkanku akan keperempuananku.

Terimakasih untuk memelukku dan mengajakku bercanda di antara nafasmu yang tinggal setengah.

Kata-kata yang kamu bisikan padaku malam itu, sebelum aku bertolak ke Jatinangor, akan selalu aku pegang.

M,

Terimakasih.

.

#30harimenulis saat saya sedang dilanda rindu pada M, inisial almarhum kakek saya. Satu-satunya kakek yang pernah saya lihat dan kenal seumur hidup saya. :)

#day7 : Bahagia

March 13, 2012

+ Konsep bahagia yang seperti apa sih yang ada di kepalamu?

- Memangnya bahagia itu harus terkonsep yah?

+ Hidup sih yang sebaiknya terkonsep dan berujung bahagia.

- Yakin kalau hidup kita terkonsep kita akan bahagia?

+ …

- Mau terkonsep atau tidak, bahagia itu selalu sederhana.

+ Seperti?

- Seperti cium tangan setiap pagi yang kamu lakukan pada ibumu.

+ …

- Seperti mempersilakan ibu-ibu tua untuk duduk di bangku busway yang seharusnya bisa kau duduki bila kau mau.

+ …

- Bahagia itu pilihan pat. Sesederhana kamu memilih langkahmu setiap pagi.

+ …

- Maka berbahagialah!

.

*Suatu malam di balik selimut, ketika saya sedang berbicara dengan diri saya sendiri. Melirik ke kanan, ada bahagia saya di sana. Ibu. Sederhana. :)

#30harimenulis

#day6 : Racau

March 12, 2012

Fans fanatik itu tidak hanya ada dalam dunia sepakbola, tapi juga agama. Itu mengapa isu agama selalu menjadi hal sensitif untuk dibicarakan.

Mencari tahu tentang apa yang terjadi antara banyak pihak yang ribut dalam isu agama akhir-akhir ini. Membaca. Masing-masing meyakini dalil yang mereka angkat dari Quran. Segalanya parsial. Lantas bagaimana menjadikannya utuh, jika pihak-pihak ini tidak mengedepankan diskusi atau debat terbuka, tapi memilih aksi keras dengan meneriakan dan memaksakan apa yang diyakininya?

Tak sedikit yang mencela. Saya pikir Rasulullah tak pernah mengajarkan umatnya untuk mencela atau bahkan menyindir orang meski Rasulullah tak menyukai orang tersebut. Koreksi saya jika saya salah.

Yang terlihat sekarang adalah adu cela. Masing-masing meyakini apa yang dia pegang.

Menjaga lisan. Itu yang saya ambil dari apa yang guru mengaji saya ajarkan. Lidah seseorang bisa lebih tajam dari pisau. Tak baik menuding jika kamu belum mendengar dan melihat secara langsung hal yang dituding dari orang yang bersangkutan. Bukankah perkataan dari mulut ke mulut hanya akan berakhir sebagai alkisah yang mengaburkan fiksi dan fakta?

Negara ini menganut paham liberalisme. Ingin menghancurkan penganut liberalisme di negara yang menganut paham tersebut sepertinya tindakan yang sia-sia. Jika mau, kudeta negaranya agar bisa membuat aturan seperti yang kamu mau.

Tapi memasukan pemikiran kita ke pemikiran lain bukankah tak bisa dengan cara pemaksaan?

Allah berfirman dalam al-Qur’an (al-Ghasyiyah [88]: 21-22) “maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu adalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukan orang yang berkuasa atas mereka”.

Beri peringatan dan tak usah sewot jika memang tak didengarkan. Tugas kita memperingatkan, tapi bukan berarti harus nyinyir terhadap orang yang kita anggap salah dan ajarannya berbeda dengan kita.

Menjadikan islam yang ramah, bukan islam yang pemarah. :)

Ah, tapi siapa saya meracau tentang agama sesiang ini?

Sudahlah..

.

#30harimenulis

#day5 : Lagu

March 8, 2012

I can’t say anything
Or bring you something
I hope you can feel this
My desire…
(Pure Saturday – Desire)

.

Lirik di atas hanyalah penggalan dari salah satu lagu Pure Saturday yang saya suka. Oh tidak, saya tidak akan bercerita tentang band asal Bandung itu. Cukup gunakan search engine untuk mencari tahu tentang mereka dan saya yakin akan ada sederet list panjang tulisan yang menceritakan mereka.

Saya ingin berbicara tentang soundtrack hidup. Pasti kita pernah merasa, “eh ini lagu gue banget!” saat sebuah lagu mengalun dan sampai di telinga kita. Di sini saya menggeneralisasi dengan menggunakan kata ‘kita’ karena saya yakin ini tidak hanya terjadi pada saya saja. Hahaha..

Ada lagu-lagu ‘spesial’ yang begitu kita mendengarnya langsung mengantarkan kita pada suatu waktu, dengan kondisi dan situasi tertentu. Mengantarkan kenangan hadir di hadapan, begitu saya biasa menyebutnya.

Seperti lagu Desire ini. Saya mengenal Pure Saturday lewat Elora. Tapi saya dikenalkan Desire oleh mantan saya. Ini lagu yang selalu dia masukan dalam playlist winamp di komputer saya selain lagu ‘Grow Old with You’-nya Adam Sandler.

Mendengar kata Pure Saturday tak lagi mengingatkan saya pada Elora, tapi langsung menuju pada Desire karenanya. Padahal kalau dipikir-pikir tak ada momen spesial antara saya dan lagu Desire. Yang ada mungkin lagu ini selalu menemani saya saat sedang berdua dengan si mantan.

Betapa lagu punya magnet kuat untuk menarik kenangan ke hadapan kan?

Bukan hanya momen spesial, lagu kadang mengantarkan saya pada suatu era. Seperti ketika saya mendengarkan Backstreet Boys, saya akan mengingat masa SMA saya (Ya, saya mendengarkan lagu mereka saat SMA).

See, music can be so powerful. Don’t you agree?

Bersyukurlah kita yang masih bisa mendengar nada. :)

Saya kadang bertanya, bagaimana cara tuna rungu menafsirkan nada yah? Bagaimana cara mereka meresapi dan menghadirkan kenangan ke hadapan? Dengan sentuhankah? Atau bagaimana?

Ah sudahlah..

Kamu sendiri, apa lagu yang bisa mengantarkan kenangan ke hadapan?

Eh, Goodnight everyone! :)

.

#30harimenulis kali ini disponsori oleh tayangan Radio Show TvOne yang menghadirkan Adhitia Sofyan, Pure Saturday, dan Sarasvati. Malam ini telinga saya merasa sangat dimanja.. :3

#day4 : Menunggu Bus

March 6, 2012

Kemarin malam, saat saya hendak pulang dari tempat saya bekerja, hujan turun perlahan. Rintik.

“Ah, tak masalah.” Pikir saya saat itu.

Saya memang sengaja tak meminta kakak saya untuk pulang bersama saya kemarin karena saya pulang lebih lama dari biasanya. Jadi saya pun memutuskan untuk menunggu bus di depan RS Harapan Kita dimana bus menuju rumah saya biasa lewat. Saya sampai di Harapan Kita sekitar pukul setengah delapan malam. Hujan pun sudah tampak mereda sehingga saya tak perlu lagi berteduh di bawah jembatan penyeberangan.

15 menit kemudian, bus yang saya tunggu tak kunjung datang.

Satu jam kemudian, hujan yang tadinya saya kira mereda malah menderas dan ditemani kilat-kilat aduhai yang menghiasi langit. Dan saya akhirnya berteduh di bawah pohon rindang di pinggir jalan, masih belum menemukan bus yang mau mengangkut saya hingga ke depan rumah. Hahaha..

Hujan, tolong peluk saya sebentar saja.

Kira-kira itu pesan singkat yang saya kirim ke beberapa teman saya. Yah, sekedar mengisi waktu luang selama saya menunggu bus yang tak kunjung datang.

Dan memang, bus yang saya inginkan ternyata tak mau berhenti di depan saya yang sudah mengacungkan tangan tanda ingin naik. Bus-bus itu pergi begitu saja seakan tak butuh penumpang tambahan lagi. Yang sering lewat di depan saya justru bus yang memutar cukup jauh dan membuat saya harus naik angkutan umum sekali untuk sampai ke rumah saya.

Jujur, saya enggan naik bus yang tak membawa saya ke tujuan saya.

Jempol saya masih sibuk membalas pesan singkat teman saya yang meng-sms saya dengan kalimat ini, ” ..Bus jgn ditunggu2, ntar juga nongol sendiri. hehe”

Yang saya balas dengan, ” Lebih baik nunggu bus yang pasti datengnya, drpd nunggu orang yg ga pasti dateng.”

Tapi ternyata bus yang saya tunggu pun tak pasti kedatangannya.

Hingga pukul setengah sepuluh malam, saya masih berdiri di bawah pohon sedikit berteduh dari derasnya hujan. Dan ternyata memang hanya bus yang jalannya berputar jauh yang masih lewat di depan saya.

Setengah sepuluh itu saya akhirnya menaiki bus itu, bus yang membawa saya memutar hanya untuk sampai tujuan.

Setengah sebelas malam, saya sampai di rumah dengan selamat. Seduh teh, bersembunyi di balik selimut, sambil nyalakan laptop pinjaman untuk berjalan-jalan di dunia maya.

Malam itu, cuaca dan keadaan seperti menyentil saya yang tengil ini.

Mau sampai kapan pat kamu menunggu sesuatu yang tak pasti? Ga lelah apa? Coba liat sekitar. Siapa tau ada yang lewat dan bersedia menemanimu ke satu titik meski titik itu belum tentu menjadi tujuan kamu. Paling tidak, kamu belajar membuka peluang dan tak menutup diri lagi. :)

*

Selamat malam teman! Mari merancang mimpi indah.. :)

#30harimenulis

#day3 : (Pass)ion

March 5, 2012

Saya setuju dengan apa yang Om @nukman bilang. Sebelumnya passion saya menggeluti dunia sosmed begitu besar. Dibayar kecil tak jadi masalah. Tapi ketika bentrok dengan kebutuhan segalanya berubah. Motivasi saya sekarang jadi mencari uang. Padahal ada banyak transaksi wacana di kepala saya mengenai passion saya di bidang lain. Dan ini yang akhirnya membuat saya terdiam di akhir pekan kemarin. Terdiam karena apa yang ada di kepala saya seperti menyudutkan saya yang sekarang hidupnya seperti robot saja.

Banyak yang ingin saya lakukan. Saya sangat sadar akan hal itu. Di tempat saya bekerja sekarang pun saya anggap sebagai wadah untuk saya belajar sementara sebelum saya melangkah lagi ke tempat lain. Saya hanya belum tahu dan belum tentukan target hingga kapan saya akan berada dalam posisi ini. Tiga bulan kah? Enam bulan kah? Atau mungkin setahun?

Semakin kesini wacana-wacana lain semakin berseliweran dalam kepala saya. Selalu saja tertarik dengan hal yang baru. Dan tak suka berada dalam keadaan stagnan. Eh tapi tak perlu saya sebut di sini lah yah apa saja wacana saya itu.

Satu yang saya sadar, saya belum bisa multitasking. Saya ini orang yang kalau mengerjakan sesuatu itu ya fokus di situ saja. Ketika harus menghandle yang lain dalam waktu yang bersamaan, jujur saya angkat tangan. Hahaha..

Dan multitasking inilah yang ingin saya pelajari sekarang. Sebenarnya sih bisa saja. Asal saya mau berperang dengan rasa malas dan menjadi orang yang lebih giat dari sebelumnya. Saya yakin suatu saat yang tak lama dari sekarang saya bisa benar-benar menggeluti passion saya. :D

Jleb!

Jleb!

Sore ini, mari semangati diri sendiri! :)

.

#30harimenulis ini telat sehari karena kemarin malam keasikan main pinterest lalu ketiduran. Hahaha..

#day2 Mengingat Kamu

March 3, 2012

Karenamu saya belajar menjadi kuat dari sebelumnya. Tanpa hadirnya kamu, saya hanya akan jadi orang yang tak mengenal realita.

Selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap langkah.

Terimakasih. :)

Menyesap habis diri. Tak bersisa. Membuat lesap di udara. Dalam keadaan luka menganga.
.

*tulisan ini sisa. Karena ini sabtu dan saya sedang mengingatmu. #30harimenulis

.06 Kedatangan

March 3, 2012

Aku, kamu, saling bersitatap untuk kemudian terserap dalam pusaran waktu yang mengembalikan kita pada ingatan akan masa lalu. Aku. Kamu. Memagut rindu dalam dunia yang semu.

.

Dan di sinilah lelaki itu berada. Berdiri tepat di depan pintu rumah Rana meminta izin agar bisa masuk ke rumah. Wajahnya tampak lusuh. Peluh memenuhi dahinya.

‘Apa yang sedang memburumu?’ Begitu pikir Rana.

“Na..”

Itu kata pertama yang keluar dari mulut lelaki itu. Membuat Rana tak bergeming dari tempatnya berdiri. Lekat menatap lelaki yang berdiri di hadapannya, menunggu kata-kata selanjutnya meluncur dari mulut sang lelaki. Tapi lelaki itu diam. Atmosfer malam itu pun menjadi sedemikian hening. Membuat suasana kaku untuk mereka berdua.

“Maaf..”

Itu kata kedua yang keluar dari mulut lelaki itu.

Rana mengernyitkan dahinya, memandang wajah lelaki itu tanpa berkedip. Perlahan tangan kanan Rana menyentuh lengan kiri si lelaki dan menggenggam jemarinya, sedemikian erat, seakan semua perasaan itu ia tumpahkan pada jemari yang saat itu sedang ia genggam. Dan Rana masih dengan diamnya hanya bisa menggeleng. Tak lama melepas tangan si lelaki dan kembali masuk ke rumah. Menutup pintu tepat di hadapan lelaki.

Rana sandarkan tubuhnya di balik pintu. Menempelkan kepalanya pada kokohnya kayu. Lengan kanannya masih melekat pada gagang pintu.

Klik!

Bunyi kunci pintu yang Rana putar.

Lama Rana diam. Pikirannya kacau balau. Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Seperti ingin menyadarkan diri, Rana sentuh jari manis di tangan kirinya perlahan.

Ada cincin yang terpasang di sana.

Rana kembali terisak. Isak yang panjang.

.

.

Good morning people!

Pagi ini saya rindu melanjutkan cerita Rana dan Dimas. Meski saya tahu, saya bahkan sudah lupa alur yang akan saya buat setelah lama tak menulis tentang mereka. Tak ada yang spesial tentang cerita cinta. Ternyata. :)

Oh iya, ini tidak termasuk dalam project #30harimenulis, karena Rana dan Dimas jauh lebih dulu ada dibanding #30harimenulis saya. Hehe.. sudahlah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.