Assalamu’alaikum, 2015

Halo! Assalamu’alaikum, 2015. 🙂

Akhirnya saya menjejakkan diri lagi di blog setelah sekian lama, ya. Kangen? Iya, saya kangen menulis bebas memuntahkan isi kepala. Postingan pertama di 2015 ini, izinkan saya berbagi cerita tentang Januari, tentang kesiapan, perubahan dan belajar untuk kebaikan. Serius dikit, boleh yah?! 🙂

Beberapa tahun terakhir, setiap bertemu Januari, saya selalu teringat akan kehilangan. Januari 2010, saya kehilangan bapak. Saya bahkan tak sempat menatap wajahnya di saat-saat terakhir hidupnya. Januari 2014, saya kehilangan sahabat lelaki yang sudah saya anggap adik sendiri. Sahabat lelaki yang di malam sebelumnya bahkan masih sempat bertukar pesan dengan saya.

Januari begitu intim dengan kehilangan. Januari mengingatkan saya betapa dekatnya manusia dengan kematian. Januari, bulan pertama masehi, nyatanya menjadi pembuka dan pengingat bahwa hidup di 11 bulan ke depan haruslah dijalani dengan kesiapan. Siap untuk menerima segala, siap untuk menjalani segala yang diberikan semesta. Kesiapan untuk pasrah dan tunduk pada yang mencipta.

Januari 2015 hampir berakhir. Menengok 2014, banyak sekali perubahan yang saya lakukan. Banyak putusan yang saya ambil. Saya nggak berani bilang bahwa saya sudah hijrah, karena hijrah adalah proses berpindah yang nggak akan selesai hingga maut menjemput. Tapi bisa saya katakan, 2014 adalah tahun di mana saya memaksakan diri saya untuk melakukan hal baik dalam hidup saya. Memaksakan diri? Ya, saya memaksakan diri agar kelak saya terbiasa. Terbiasa melakukan hal baik, terbiasa mengisi hidup saya dengan kebaikan.

Berat?

Saya nggak pernah bilang proses ini mudah. Tapi saya mencoba. Untuk kebaikan, insyaAllah saya nggak ingin menyerah.

Masih banyak yang harus dipelajari, karena makin ke sini, makin sadar bahwa banyak hal yang nggak saya tahu. Bahwa ilmu Allah itu sangatlah luas dan saya hanyalah manusia yang fakir ilmu.

Dan kini, di 2015, di waktu yang sedang saya jalani, doakan saya untuk terus memantaskan diri. Bukan untuk siapapun, tapi untuk diri sendiri dan untuk meraih ridha Illahi. Doakan pula saya untuk bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang akan selalu mengingatkan saya akan kebaikan, yang akan menggenggam tangan saya dan mengajak saya untuk belajar bersama menuju Jannah-Nya. Aamiin Allahumma Aamiin. 🙂

.

*ps: Ini saya yang sedang belajar menundukkan pandangan dari dunia dan belajar untuk lebih mencintai Zat yang lebih dekat dari urat nadi.*

.01 Namanya Langit

Jakarta, kotamu, yang akhirnya kudatangi demi secercah harapan.

Jakarta di saat mendung. Kotamu, yang akhirnya kudatangi demi secercah harapan.

Biar kumulai tulisan ini dengan selembar foto, karena ada yang harus kutuangkan dari kepala. Terkadang foto lebih mewakili cerita. Tapi, apalah arti dari selembar foto kota Jakarta yang kuambil dari ketinggian pada 2012 silam?

Tidak ada.

Tapi menjadi ada, ketika setahun setelah kuambil foto tersebut, aku bertemu kamu. Perempuan ibukota, perempuan yang mengajakku bermain rasa, perempuan yang dari tangannya lahir ratusan nada. Ah, dari mana aku mulai ceritanya? Nama? Kalian butuh nama?

Namanya Langit. Seperti namanya, aku pun tak yakin ia berasal dari bumi. Dan dari namanya, tak kentara pula bahwa ia berasal dari Jakarta. Tingginya? Tak lebih tinggi dari aku. 160-an mungkin. Parasnya? Biasa saja, tapi senyumnya menyenangkan. Tawanya apalagi, renyah.

Aku bertemu Langit di kereta Parahyangan dari Bandung menuju Jakarta. Ya kau tahulah, seperti cerita-cerita di FTV, di mana segalanya sudah diplot dengan sangat baik. Aku duduk tepat di samping jendela, sedang memandang ke luar, saat Langit datang dan duduk di sampingku. Ia duduk begitu saja, tanpa basa-basi, tanpa senyum sana-sini. Ia duduk dan lalu sibuk dengan musik di telinganya. Bersenandung ‘Ke Entah Berantah’ milik Banda Neira.

♫♪ Dia datang saat hujan reda
Semerbak merekah namun sederhana
Dia bertingkah tiada bercela
Siapa kuasa 

Dia menunggu hingga ku jatuh
Terbawa suasana
Dia menghibur saat ku rapuh
Siapa kuasa 

Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya… ♪♫

.

Kamu tahu, Langit? Saat itu, saat aku menatapmu yang duduk di sampingku, bersenandung dengan suara yang renyah sambil memejamkan mata tanpa memedulikan sekitar, mungkin adalah saat di mana aku jatuh. Suaramu benar-benar membawaku ke entah berantah. Iya, aku jatuh pada suaramu. Lalu, aku semakin jatuh ketika kamu yang sudah selesai menyanyi, menatap aku yang sedang menatapmu dalam diam. Sedetik setelahnya, kamu tertawa. Tawa yang renyah. Dan tanpa peringatan, kamu menyodorkan tangan.

“Hai. Langit. Sorry, nyanyinya ganggu ya?” Ujarmu dengan penuh senyum, sambil menunjuk dirimu sendiri saat mengucap kata ‘Langit’.

“Hai.. Gue Arya.” Balasku, sambil menyambut sodoran tanganmu. Tangan mungilmu yang kini sudah tidak bisa lagi kugenggam erat seperti dulu.

Begitulah pertemuan pertama kita. Kalau diingat-ingat sekarang, rasanya seperti menonton FTV. Tak yakin nyata.

Se-tak yakinnya aku ketika mendengar kabarmu yang sudah tiada. Iya, kabar itu begitu tiba-tiba. Seperti jatuhnya aku pada tatapmu yang juga tiba-tiba.

Langit, akhir-akhir ini Jakarta dirundung mendung.

Dan tetiba aku rindu…

.

.

ps: Selamat sore dan selamat menikmati! Sudah lama rasanya nggak nulis di sini. Kemarin setelah baca blog seorang teman, tetiba jadi ingin menulis. Karena nggak tau juga mau menulis apa, karena si hati juga lagi nggak merasa apa-apa, jadi jadilah tulisan instan ini. Belum tau mau dibawa ke mana. Belum tau akan berakhir seperti apa. Pada akhirnya, saya hanya ingin menulis, jadilah saya menulis. Oh iya, foto diambil dari puncak Monas ketika Jakarta sedang mendung-mendungnya, menggunakan kamera analog FM10. 🙂

Klakson

DSC_9167

Perempuan itu tak pernah suka bunyi klakson. Bunyi klakson mengingatkannya akan ketergesa-gesaan. Padahal segala hal yang diawali dengan tergesa-gesa tak pernah berujung baik. Hal itu pula yang membuatnya tidak pernah memencet tombol klakson selama ia mengendarai motor. Bunyi klakson memekakkan telinganya, membuatnya merasa diburu waktu, sesuatu yang tak ia mau. Perempuan itu tahu betul bahwa di zaman yang katanya ‘modern’ ini, semua dituntut untuk bergerak cepat. Termasuk dalam berkendara. Kemacetan, riuh rendah suara klakson dan ketergesa-gesaan kemudian jadi sarapan para pengguna jalan saban pagi. Semua ingin sampai ke tujuan dengan cepat (ya, siapa juga sih yang nggak mau sampai tujuan dengan cepat?). Tapi kalau harus sampai membahayakan nyawa sendiri, melanggar aturan dan bahkan mengambil hak pejalan kaki? Perempuan itu jelas memilih untuk berkendara santai dengan caranya sendiri.
*
Iya, nikmati saja jalannya, ikuti aturannya. Nikmati keriuhan, lalu lalang kendaraan dan pejalannya. Nikmati setiap detiknya. Hidup terlalu berarti untuk dihabiskan dengan tergesa-gesa.
*
“Sudah lampu hijau. Mari kembali jalan!” 🙂

ps: Sepotong tulisan ini dicomot dari Google+ saya. Akhir-akhir ini saya memang lebih senang bermain di sana dan di Instagram dibanding platform socmed lainnya. Hari ini saya kembali menjejakkan cerita di blog ini. Alasannya sederhana: rindu. Ah iya, selamat sore, Tuan dan Nona! 🙂

Pecinta Hujan

The Journey in Me

Kamu tahu aku pecinta hujan.
Aku akan berlari ke luar rumah, jika mendengar suara rintik hujan turun. Aku akan menari di bawahnya, tidak peduli tubuhku akan menjadi basah.

Aku tahu kamu bukan pecinta hujan.
Kamu akan berlari masuk ke dalan rumah, jika sedang tidak sengaja duduk-duduk di teras. Kamu akan menggerutu melihatku menari dengan penuh senyum.

Kita berdua berbeda tentang hujan,
Namun kamu pernah berbisik padaku di bawah payung di dalam hujan, “Jika nanti aku tidak ada dan tetesan air hujan menyentuh bibirmu, itu aku sedang menyapamu.”

Malam ini, hujan sedang berkunjung ke pekarangan rumahku untuk ke 266 kalinya, semenjak kamu meninggalkanku.

Finkenwerder,  24. Juni 2014

It’s also a special post for Fatimah who still couldn’t forget the rain.

View original post

Dua Pasang Kaki (part 2)

Dua pasang kaki itu sudah tak saling mencari. Dua pasang kaki itu kini berselisih jalan. Masanya selesai. Tak berharap lagi dipertemukan. Dua pasang kaki itu kini berjalan di jalannya masing-masing, mengisi hari dengan niat yang tak lagi sama.

Sepasang kaki si perempuan sudah lelah untuk melangkah. Tubuhnya ringkih tak lagi dalam semangat yang sama. Kini sepasang kaki perempuan hanya ingin mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Klise memang, tapi terbayang di benaknya Waktu dulu di mana sepasang kaki si perempuan harus terjerembab dalam kubangan, berlumuran kotoran. Dan hanya dengan mengingat Tuhan lah hatinya menjadi tenang.

Sedangkan sepasang kaki si lelaki, tampak tak bisa tahan godaan. Di setiap jejak, ia menoreh cerita dan menaruh rasa pada sepasang kaki perempuan lain yang menemaninya dalam perjalanan. Iya, bukankah hidup adalah kumpulan perjalanan yang dikemas dalam waktu? Jadi, tak salah jika sepasang kaki si lelaki selalu jatuh hati dengan sepasang kaki perempuan (yang berbeda) di setiap perjalanan yang berbeda pula.

Masa dua pasang kaki itu sudah usai, laiknya cerita dalam perjalanan mereka. Memang tak ada yang tahu masa depan kelak akan seperti apa. Memang tak ada yang tahu, apakah waktu akan mempertemukan mereka lagi kelak dalam cerita. Tapi untuk saat ini, masa dua pasang kaki itu sudah usai.

Dan tersenyumlah hai para pemilik kaki. Tersenyum karena pertemuan, kesempatan, dan untuk pernah sejalan meski tanpa ikatan. 🙂

.

ps: Jarak dan Waktu bisa menjadi sebegitu kejamnya. Karena itu si pemilik kaki perempuan berhenti menghitung Waktu untuk bertemu dan berhenti mengoleksi rindu agar segalanya tak lagi terlalu. Melepaskan, mungkin begitu.

ps ps: Tulisan ini diambil dari notes yang ada di ponsel saya. Tulisan lama yang akhirnya disajikan di sini. Selamat menikmati! 🙂

Belakangan, Saya Kehilangan Kata

Belakangan, saya kehilangan Kata. Saya curiga, sepertinya Kata melesap bersatu bersama udara lalu menjadi entah. Biasanya saya menemukan Kata saat sedang dalam perjalanan, menunggu, bangun tidur, atau saat sedang buang air besar. Tapi kali ini Kata menghilang begitu saja. Saya cari ke sana ke mari, tapi tak jua menemukan. Saya kehilangan jejak Kata. Ia sepertinya enggan berteman lagi dengan saya. Mungkin karena saya terlalu banyak dan terlalu sering menahan isi kepala. Mungkin karena saya mulai enggan bermain dengan rasa. Mungkin, ada jutaan kemungkinan yang berseliweran di kepala.

Belakangan, saya kehilangan Kata. Dan ini baru saya sadari ketika saya mulai merindukannya. Yah, bukankah ‘kita’ (generalisasi saja lah yah) selalu merasa rindu justru setelah mengalami kehilangan? Selalu merasa rindu ketika jarak tak juga mempertemukan? Selalu merasa rindu ketika hal-hal kecil yang sudah menjadi kebiasaan tetiba ditiadakan?

Belakangan, saya kehilangan Kata. Saya sudah mengejarnya dan berusaha mengobati rindu dengan banyak membaca. Tapi menuangkan Kata dalam bentuk tulisan? Aih, itu lain cerita.

Iya, belakangan saya kehilangan Kata. Seperti ketika saya bertemu dengan lelaki yang saya suka. Saya banyak kehilangan kata-kata. Saya menjadi si pendiam yang mencuri pandang dalam tundukan kepala. Tapi lagi-lagi, ini lain cerita.

Belakangan, saya kehilangan Kata.

.

ps: Iya, belakangan saya kehilangan kata-kata. Si kepala tak lagi mau mengungkapkan apa yang ada seperti biasa. Anggaplah tulisan ini sebagai bentuk nyata bahwa saya ingin mengakrabkan diri lagi dengan kata. Saya rindu bercerita, itu saja.

Selamat Hari Lahir, Bu!

Selamat 17 April, Mih!

Selamat 17 April, Mih!

.

Sudah kehilangan satu, maka menjaga yang satunya lagi adalah kewajiban. Menyenangkan hatinya di saat masih hidup. Membawanya berkeliling ke tempat yang ia ingin kunjungi. Memeluk tubuhnya dan mencium keningnya sesering yang saya bisa. Ia mungkin bukan perempuan paling cerdas yang pernah saya temui. Tapi ia memiliki hati yang luasnya melebihi bumi. Ia, ibu saya yang makin hari makin saya sayangi.

.

Selamat menginjak angka 56, Mih! Semoga berkah dan senantiasa sehat, sampai nanti, sampai Allah mengundang kita untuk bertamu ke rumah-Nya yah. 🙂